INVESTMENT GRADE : Premi dan Investasi Berpotensi Tumbuh Tinggi

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan investment grade yang diberikan Standar and Poor’s (S&P) menjadi prestasi tersendiri bagi pemerintah sebab menunjukkan tumbuhnya tingkat kepercayaan masyarakat global terhadap Indonesia.

Bagi sektor asuransi jiwa, jelasnya, pemberian predikat itu terutama akan meningkatkan potensi hasil investasi sepanjang tahun ini. Pasalnya, aliran dana dari luar negeri diyakini akan masuk ke pasar modal Indonesia dan mempengaruhi imbal hasil instrumen saham dan juga surat berharga negara (SBN).

“Banyak investasi masuk ke pasar modal dan beberapa ahli menilai [IHSG/indeks harga saham gabungan] bisa menembus 6.000. Jadi, [sektor asuransi] lebih optimistis,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (22/5).

Investment grade, jelasnya, akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Permintaan akan instrumen ini pun diproyeksikan bakal meningkat, meski juga dapat mempengaruhi imbal hasilnya menjadi lebih kecil.

Namun, Togar menilai secara umum kinerja investasi industri asuransi jiwa pada tahun ini mampu bertumbuh optimal.

“Return saham bisa meningkat sampai akhir tahun. Optimistis bisa lebih bagus pada kuartal II/2017 dan sampai akhir tahun,” ujarnya.

Selain hasil investasi, Togar menilai peringkat investment grade juga akan meningkatkan arus investasi langsung ke Indonesia, termasuk pada sektor riil. Hal itu, jelasnya, juga menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk membeli produk asuransi jiwa.

Oleh karena itu, dia meyakini potensi pertumbuhan pendapatan premi asuransi jiwa pada tahun ini pun semakin besar. “Direct investment akan meningkatkan investasi yang bisa menurunkan pengangguran dan meningkatkan kemampuan masyarakat. Akhirnya, premi bertumbuh,” ujarnya.

DIMAKSIMALKAN

Direktur Utama PT Capital Life Indonesia Antony Japari menilai predikat layak investasi dari S&P akan meningkatkan prospek pasar modal. Bagi perusahaan asuransi jiwa dengan karakteristik kewajiban jangka panjang sehingga umumnya memanfaatkan instrumen saham, kondisi itu patut dimaksimalkan.

Dia mengatakan perusahaan asuransi dapat mengalokasikan dana kelolaannya ke instrumen pasar modal hingga batas maksimum yang ditetapkan dalam ketentuan berlaku.

“Bobot investasi di saham bisa kita maksimalkan sesuai aturan, sekitar 40% dari total investasi,” ujarnya kepada Bisnis.

Antony menilai perusahaan asuransi jiwa bisa membeli saham-saham prospektif untuk mengambil keuntungan hingga akhir tahun nanti. Menurutnya, saham-saham bluechip akan semakin diburu para investor untuk memberikan imbal hasil yang relatif tinggi, sedangkan saham yang masuk kategori second liner menjadi pilihan berikutnya.

Hingga kuartal pertama tahun ini, PT Capital Life Indonesia masih mempertahankan porsi investasi pada sejumlah instrumen utama. Capital Life mengalokasikan sekitar 30% – 40% aset investasinya pada saham dan sekitar 20% – 30% lainnya pada obligasi korporasi dan SBN. “Selebihnya di deposito dan instrumen lainnya,” ujar Antony.

Sementara itu, Chief Corporate Affairs Officer Axa Indonesia Benny Waworuntu sebelumnya mengungkapkan realisasi peningkatan peringkat Indonesia oleh S&P menjadi sentimen positif bagi iklim investasi nasional. Menurut dia, penurunan imbal hasil SBN akibat meningkatnya permintaan dapat disubstitusi oleh peningktan imbal hasil instrumen lain.

“Misalnya ke saham atau instrumen lainnya yang meningkat akibat peringkat itu,” ujarnya kepada Bisnis.

Benny menilai saat ini pun para pelaku asuransi sudah mempersiapkan diri untuk mengantisipasi potensi tersebut. Perusahaan asuransi, sebutnya, seharusnya sudah memiliki tim investasi yang dapat menata portofolio investasi dengan tepat.

Prinsipnya, jelas dia, hasil investasi asuransi mesti sesuai dengan kewajiban atau liabilitas yang jatuh tempo. Selain itu, jelasnya, pengelolaan investasi diarahkan untuk memberikan keuntungan semaksimal mungkin kepada nasabah. “Harus matching antara investasi dengan liability,” ujarnya.

Sumber : bisnis.com 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *