PROFESIONALISME AGEN ASURANSI : Lisensi Menjadi Kunci Utama

Masifnya kerja sama antara perusahaan asuransi jiwa dan perbankan mengindikasikan jalur pemasaran banccasurance bakal terus meningkat. Kondisi itu yang membuat para agen asuransi harus putar otak untuk mengembalikan eksistensi lini keagenan.

Tentu bukan suatu tugas yang mudah untuk memutar balik lagi keagenan menjadi leader dalam kanal distribrusi pemasaran asuransi. Dalam hal ini, para agen asuransi dituntut lebih profesional supaya nasabah menganggukkan kepala sebagai ungkapan setuju untuk berasuransi.

Untuk menjadi seorang agen asuransi yang profesional tentu tidak instan atau gratis. Nelly Husnayati, Kepala Departemen Hubungan Antar Lembaga Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), mengatakan untuk menjadi profesional para agen asuransi harus memiliki lisensi.

“Lisensi wajib tidak bisa tidak, hal tersebut untuk memproteksi nasabah. Agen tidak bisa menjual tanpa lisensi,” kata Nelly dalam Seminar Agen Asuransi, Kamis(24/5).

Tidak hanya sampai di situ, dia mengungkapan setelah mendapatkan lisensi agen asuransi harus mengikuti program lanjutan yaitu Continous Profesional Development, sehingga para agen asuransi dapat mengembangakan kompetensi baik dalam pelayanan maupun pengetahuan produk.

Meski dari segi pendapatan premi asuransi, lini keagenan sudah mulai menyusut dibandingkan dengan bancassurance. Pihaknya mengaku optimis keagenan tetap mampu bertumbuh apabila agen asuransi terus meningkatkan profesionalitasnya. Apalagi penetrasi asuransi di Indonesia masih kecil di bawah 3%. “Seharusnya ini jadi potensi para agen. Agen asuransi masih menjadi tulang punggung,” katanya.

Menurutnya, agen asuransi merupakan pekerjaan mulia. Agen masih dinilai penting untuk memberikan edukasi secara intensif kepada nasabah. Pasalnya peran agena asuransu tidak hanya sebagai penjual produk namun mengedukasi.

Agen Berlisensi Meningkat

Berdasarkan data yang dihimpun AAJI, pertumbuhan jumlah agen asuransi berlisensi terus meningkat. Sebanyak 414,9 ribu agen pada 2014 meningkat menjadi 512,6 ribu agen, pada 2016 meningkat kembali menjadi 543,1 ribu agen.

“Kami berencana juga mempercepat untuk merealisasikan program dari OJK 10 juta agen asuransi dengan mengadakan roadshow,” katanya.

Yasril Y. Rasyid, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Periode 2015-2017 menambahkan berbeda dengan agen asuransi jiwa, agen asuransi umum lebih bergerak lambat lantaran pendapatan premi utama asuransi umum bukan dari keagenan. “ Di asuransi umum baru menyumbang 28 ribu agen asuransi,” katanya.

Guna lebih meningkatkan kinerja keagenan, Yasril mengungkapkan agen juga harus mulai berubah dan kreatif dalam memanfaatkan teknologi digital. Pasalnya degan perkembnagan teknologi dapat menjadi sebuah tantangan dan ancaman.

Pihaknya mencontohkan banyaknya e-commerce yang muncul saat ini, dapat menjadi sebuah wadah atau market place untuk agen. Agen asuransi dapat menjual produk melalui kerjasama dengan channel tersebut.

“Banyak modus yang berbeda dengan teknlogi digital, PAAI [Perkumpulan Agen Asuransi Indonesia] juga harus bisa mengatisipasi hal tersebut, supaya agen dapat menjadi agregator di e-commerce,” jelas Yasril.

Hal senada diungkapkan Donny Adi Wiguna, Ketua Bidang Pelatihan PAAI. Dia mengatakan dalam globalisasi produk asuransi terdapat big data yang memungkinkan pembeli dan penjual tanpa melakukan tatap muka sampai dengan pengambilan keputusan.

“Harus ada kekuatan mengumpulkan yang berbeda. Agen tidak bisa bekerja dengan cara yang lama, harus lebih profesional,” katanya.

Selain itu, Tri Djoko Santoso, Chairman Financial Planning Standard Boards Indonesia menambahkan agen asuransi juga harus mulai memetakan potensi pasar yang disasar, seperti masyarakat middle class.

“Harus lebih tahu pasar dimana ia (agen) akan masuk. Karena semakin tinggi edukasi masyarakat pasti akan semakin membutuhkan produk keuangan,” kata Tri Djoko.

Menurutnya, pasar masyarakat menengah menjadi potensi besar para agen asuransi. Pasalnya berdasarkan survei, terdapat 135 juta masyarakat menengah sampai dengan tahun 2030. Oleh karena itu, agen asuransi harus meningkatkan awareness terhadap profesinya supaya dapat berkompetisi.

“Kompetisi di sini bicara kualitas bukan kuantitas, meski agen ada sebanyak 10 juta namun ada 5 yang fraud ,semua juga akan kena dampak,” jelasnya.

Sumber : bisnis.com 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *